Pengelolaan Kawasan Secara Kolaboratif, Balai TNRAW Menyelenggarakan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Kelompok Nelayan Pelestari Rawa dan Pengrajin Totole di Desa Wawosanggula

104

Anyaman tikar merupakan salah satu pranata kerajinan rakyat klasik suku tolaki. Membuat anyaman tikar merupakan satu bentuk kerajinan yang dikuasai oleh masyarakat Tolaki. Keterampilan ini dimiliki oleh masyarakat tolaki turun-temurun dan telah menyatu dengan sistem kebudayaan setempat. Tikar bukan hanya barang yang dipakai sebagai alas tidur atau tempat duduk-duduk saja, lebih dari itu tikar tolaki memiliki nilai intrinsik yang sangat dihargai. Suku tolaki menggunakannya dalam berbagai upacara adat yang mereka selenggarakan, seperti pada pesta adat perkawinan, panen atau menyambut tamu.

Salah satu sentra kerajinan anyaman tikar adat masyarakat tolaki terdapat di daerah Desa Wawosanggula, Kecamatan Puriala, Kabupaten Konawe yang menggunakan pandan rawa “totole” sebagai bahan baku pembuatan tikar adat.

Desa Wawosanggula merupakan salah satu desa penyangga kawasan TNRAW yang juga berbatasan langsung dengan zona tradisional TNRAW pada ekosistem rawa. Desa Wawosanggula ini memiliki ketersediaan sumber bahan baku totole yang melimpah. Totole merupakan tanaman khas yang ada di ekosistem rawa zona tradisional TNRAW yang berguna sebagai bahan dasar untuk membuat barang-barang fungsional kebutuhan rumah tangga sehari-hari, di antaranya tikar, bakul, keranjang dll. Kemampuan menganyam totole ini didapatkan masyarakat setempat secara turun menurun.

Selain potensi totole yang ada di ekosistem rawa, masyarakat juga memanfaatkan potensi lain seperti memanfaatkan potensi ikan rawa sebagai mata pencaharian mereka. Sebagian masyarakat sejak lama menggantungkan hidupnya menjadi nelayan rawa untuk menangkap berbagai jenis ikan yang hidup di rawa. Jenis-jenis ikan yang menjadi obyek tangkapan nelayan ini adalah ikan gabus, lele, mujair, sepat/janggo, dan tambakan/karper.

Namun sayang kedua potensi ini belum dapat dioptimalkan secara baik. Potensi totole yang bentuk produk anyamannya masih sangat sederhana, minim inovasi serta pemasaran produk yang masih sulit, menjadi penyebab kurang dioptimalkannya potensi-potensi totole ini. Sedangkan potensi ikan yang sebenarnya masih bisa di tingkatkan nilai jualnya melalui proses lebih lanjut.

Melihat kondisi tersebut, maka sejak tahun 2017 pihak Balai TNRAW telah mendukung usaha masyarakat Desa Wawosanggula melalui pembentukan kelompok kerajinan totole mandiri yang berjumlah 15 orang dan kelompok nelayan pelestari rawa 15 orang. Kelompok ini telah dibina dan diberikan bantuan untuk mendukung usaha-usaha mereka guna meningkatkan pendapatan.

Dalam rangka mengembangkan kapasitas kedua kelompok, Pada hari Rabu, 10 Juli 2019 Balai TNRAW melaksanakan kegiatan pelatihan peningkatan kapasitas kelompok untuk mengembangkan usaha ekonomi produktif melalui program kemitraan konservasi pada zona tradisional rawa bertempat di Balai Desa Wawosanggula, Kecamatan Puriala, Kabupaten Konawe.

Acara ini dibuka langsung oleh oleh Kepala Balai TNRAW,Ali Bahri S.Sos, M.Si dalam sambutannya, Kepala Balai menyampaikan bahwa dalam pengelolaan Kawasan, memerlukan keterlibatan masyarakat. Untuk mendukung kegiatan tersebut maka dibentuklah suatu kelompok dengan membangun suatu kesepahaman bersama dimana masyarakat sejahtera dengan diberikannya akses memanfaatkan potensi yang ada pada zona tradisional rawa, dengan harapan masyarakat turut terlibat dalam menjaga kelestarian kawasan. Disamping itu pula, harapan beliau melalui kegiatan ini, masyarakat dapat mengembangkan ide-ide baru melalui inovasi produk yang dihasilkan sehingga diharapkan adanya peningkatan ekonomi.

Selain itu, hadir sebagai narasumber Kepala SPTN Wilayah 1 TNRAW, Yudhi Rusbiandi S.Pi MP. Dalam materinya terkait kemitraan konservasi, Kepala SPTN Wilayah I menyampaikan bahwa berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi terhadap kedua kelompok, untuk kelompok pengrajin, terkendala pada masalah inovasi produk serta pemasaran. Sedangkan untuk kelompok nelayan selama ini hasil tangkapan ikan langsung dijual. Padahal jika dikemas dan diolah dalam bentuk lain, misalnya abon bisa mendatangkan nilai tambah.

Dalam kegiatan tersebut disampaikan serangkaian paparan dari Dinas Koperasi,UKM,Perindustrian,dan Perdagangan Kab. Konawe yang memberikan materi mengenai pengembangan usaha totole dan pengolahan jenis ikan rawa.

Dalam paparannya mengenai konsep pengembangan usaha, beliau menegaskan bahwa produk yang dihasilkan akan lebih mahal harganya jika kualitas bahan baku dapat dijaga bahkan dari proses pengeringan. Proses pewarnaan dalam kelompok yang masih menggunakan kasumba pun masih sangat disayangkan karena penggunaan pewarna yang baik adalah dengan pewarna alami seperti pandan. Selain itu, beliau juga menambahkan bahwa agar inovasi produk pada kelompok meningkat dan efisien, dalam pembuatan kerajinan totole diharapkan kelompok pengrajin dapat membuat proposal untuk membeli alat mesin jahit dan oven sehingga produk yang dihasilkan bisa lebih berkualitas dan tidak memakan waktu yang lama untuk membuatnya.

Mengakhiri kegiatan ini, Kepala Balai TNRAW mengarahkan masyarakat agar meninaklanjuti arahan yang diterima dari Dinas Koperasi,UKM,Perindustrian,dan Perdagangan Kab. Konawe untuk membuat proposal bantuan usaha dengan berkoordinasi dengan Penyuluh Kehutanan TNRAW.

 

Sumber :

Riska Pratiwi Sahrum

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here